KEWAJIBAN UMAT MANUSIA TERHADAP LINGKUNGANNYA


Allah menciptakan manusia dalam wujud sebaik-baiknya kejadian, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.S. At-Tin: 4).

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun.  Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur” (Q.S. An-Nahl: 78).

Tetapi semua pemberian Allah itu akan dituntut pertanggungjawabannya sebagaimana firman Allah:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.  Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban” (Q.S. Al-Isra: 36).

Apa yang disebut lingkungan menurut Islam mencakup semua usaha kegiatan manusia dalam sudut ruang dan waktu.  Lingkungan ruang, mencakup bumi, air, hewan dan tumbuh-tumbuhan serta semua yang ada di atas dan di dalam perut bumi, yang semuanya diciptakan Allah untuk kepentingan umat manusia untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Dari sudut ruang, dilihat dari perjalanan ekosistem diantara unsur-unsur alam yang saling mempengaruhi satu sama lain.  Lingkungan waktu merupakan peringatan dan pelajaran bagi manusia melalui pengamatan dan pengkajian terhadap nasib yang menimpa orang-orang terdahulu dalam hal pengelolaan dan pendayagunaan sumber-sumber alam.  Islam menyuruh manusia untuk belajar dari sejarah.

“Katakanlah!  Berjalanlah di permukaan bumi, kemudian perhatikan akibat orang-orang yang berdusta” (Q.S. Al-An’am: 11).

Dalam lingkungan hidup, selain bertalian antara manusia dengan alam yang berada di sekitarnya, bertalian pula antara manusia dengan manusia, disebut lingkungan sosial. Pertambahan penduduk secara deret ukur menimbulkan dampak semakin banyaknya tuntutan keperluan hidup, sementara sumber daya alam serba terbatas.

“Dari Ibnu Abbas: Janganlah kamu merugikan kamu sendiri dan diri orang lain” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).

Perkembangan manusia dan interaksinya dengan komponen lain dalam lingkungan hidup yang dikodratkan sebagai khalifah di muka bumi.  Dengan demikian manusia bertanggung jawab terhadap keberadaan dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya.  Dalam rangka tanggung jawab sebagai khalifah Allah tersebut manusia berkewajiban menyikapi lingkungan sebagai berikut:

  • Berdzikir kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya

Berdzikir dengan selalu ingat kepada-Nya juga selalu mengingat ciptaan-Nya dan tujuan dari ciptaan-Nya itu.  Sedangkan bersyukur kepada Allah dengan berterima kasih atas nikmat dan karunia-Nya juga memanfaatkan nikmat dan karunia itu untuk kemaslahatan sesuai dengan tujuan penciptaan dan tuntunan-Nya.

“Ingatlah kepada-Ku, Aku akan ingat kepadamu dan bersykurlah kepada-Ku dan janganlah membangkang” (Q.S. Al-Baqarah: 152).

  • Merenungkan dan mentafakuri kejadian alam semesta dan alam lingkungannya

Hal ini akan lebih memperkuat keyakinan akan kebesaran dan kekuasaan Pencipta-Nya.

“ Katakanlah: Perhatikan apa yang ada di langit dan di bumi” (Q.S. Yunus: 101).

  • Meneliti dan mengkaji rahasia-rahasia kejadian alam, asal-usul kejadiannya, tujuan kejadiannya, dan akhir kejadiannya

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau sambil duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.  Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Q.S. Ali Imran: 190-191).

  • Mempelajari kehidupan umat terdahulu

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat yang diderita oleh orang-orang sebelum mereka.  Orang-orang itu lebih kuat dari mereka dan telah mengolah bumi bumi serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang mereka makmurkan.  Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata.  Maka Allah sekali-kali tidak berlaku dzalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku dzalim terhadap diri sendiri.  kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah azab yang lebih buruk karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya” (Q.S. Ar-Rum 9-10).

  • Memelihara kelestarian alam

“Dia menjadikan kamu dari bumi dan menyerahkan kepadamu untuk memakmurkannya” (Q.S. Hud: 61).

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang berbuat kerusakan” (Q.S. Al-Qashash: 77).

Bagi kita umat islam, usaha pelestarian lingkungan bukan hanya semata-mata karena tuntutan ekonomis atau politis atau karena desakan program pembangunan nasional.  Usaha pelestarian lingkungan harus dipahami sebagai perintah agama yang wajib dilaksanakan oleh manusia bersama-sama.

Setiap usaha pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup secara baik dan benar adalah ibadah kepada Allah SWT yang dapat memperoleh karunia pahala.  Sebaliknya, setiap tindakan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup, pemborosan sumber daya alam, dan menelantarkan alam ciptaan Allah adalah perbuatan yang dimurkai-Nya.  Karena itu tergolong sebagai perbuatan maksiat atau munkar yang diancam dengan siksa.  Tetapi…….. sebagai umat manusia janganlah kita berhitung imbalan pahala dalam berbuat kebaikan, cukup percaya adanya kuasa Allah SWT.  Setuju ?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 467 pengikut lainnya.