TIPS MENYEJAHTERAKAN NELAYAN INDONESIA

Hutan mangrove atau hutan bakau atau hutan payau tumbuh pada tanah aluvial di daerah pantai dan di sekitar muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut.  Kata mangrove berasal dari mangro, nama umum bagi pohon Rhizophora mangle di Suriname.  Mangle adalah pohon Rhizophora atau bakau-bakau, sehingga istilah hutan mangrove setara dengan hutan bakau.  Karena hutan bakau digenangi air payau maka disebut juga hutan payau.  Fungsi ekosistem hutan bakau adalah sebagai hutan produksi (kayu, perikanan), hutan lindung (terhadap abrasi, intrusi air laut dan banjir), dan pelestarian flora dan fauna.

Pada saat ini, sebagian kawasan bakau di Indonesia telah mengalami perubahan, kerusakan, dan gangguan, sehingga terjadi proses degradasi dan deforestasi hutan bakau. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan bakau pada umumnya masih hidup dalam kemiskinan, baik dari segi ekonomi maupun pendidikan.  Kehidupan mereka sangat tergantung pada sumberdaya bakau.  Disamping itu tingkat kesehatan lingkungan pemukiman di dekat areal bakau juga rendah.  Malaria merupakan penyakit yang paling sering dijumpai di kawasan bakau.

Wabah penyakit malaria umumnya terjadi setelah penebangan hutan bakau untuk berbagai keperluan seperti perluasan pemukiman, pelabuhan, dan pembuatan tambak.  Wabah penyakit ini terjadi karena tubuh air payau bekas bakau arealnya terbuka dan mendapat sinar matahari langsung yang mengakibatkan tumbuhnya ganggang. Ganggang yang mengapung seperti Enteromorpha sp., Cladophora sp., dan Cynophyceae merupakan tempat perindukan yang paling banyak ditemui larva nyamuk Anopheles.  Air di sekitar ganggang akan mengandung banyak oksigen yang diperlukan oleh jasad renik (zooplankton) untuk berkembang biak.  Dengan semakin banyaknya jasad renik akan mengundang nyamuk betina untuk bertelur di sana, karena jasad renik merupakan makanan bagi jentik nyamuk.

Apa yang dapat kita lakukan agar ekosistem hutan bakau dapat tetap terjaga kelestariannya, nelayan setempat dapat hidup sejahtera dan bahagia?  Upaya pemerintah memperbaiki kerusakan hutan bakau telah dilakukan dengan merangsang terjadinya permudaan alami dan permudaan buatan (rehabilitasi) tetapi hasilnya belum terlihat nyata.  Lalu langkah nyata apalagi yang dapat kita lakukan?

Upaya langkah nyata telah dilakukan oleh Pemda Langkat, Sumatera Utara yang dapat kita contoh untuk mencari solusi melepaskan kemiskinan yang telah bertahun-tahun membelit kehidupan nelayan tradisional.  Jalan keluarnya melalui berkebun bakau!  Cara yang  dilakukan dengan pola kemitraan mirip pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR), yaitu kerjasama antara kelompok-kelompok nelayan setempat dengan pihak swasta sebagai bapak angkat.

  1. Nelayan diberi hak mengelola masing-masing dua hektar lahan pantai (hutan bakau yang rusak).
  2. Bibit bakau (Rhizophora spp.) disediakan oleh bapak angkat.  Untuk setiap hektar bisa ditanami 10.000 bibit, berarti untuk dua hektar diperlukan 20.000 bibit.  Nelayan diberi upah oleh bapak angkat untuk menanam bibit tersebut.
  3. Di sela-sela areal dua hektar tadi, nelayan diwajibkan membuat empang untuk budidaya bebagai jenis ikan, udang, kepiting.  Untuk ini nelayan diberikan kredit oleh pemerintah atau bapak angkat.
  4. Dibuat perjanjian antara nelayan dengan bapak angkat bahwa kayu-kayu bakau tersebut baru boleh dijual ke bapak angkat sesuai dengan harga pasaran setelah berumur empat-lima tahun dengan sistem tebang pilih.  Tebang pilih diiringi penyisipan dengan tanaman baru mutlak dilakukan agar kelestarian hutan bakau terjaga.

Untuk menanggulangi malaria di sekitar ekosistem bakau, pada tambak dapat dibudidayakan ikan nila merah.  Ikan nila merah (Oreochromis nilaticus) merupakan ikan yang dapat hidup di air tawar maupun payau.  Ikan ini akan memakan ganggang dan juga memakan jentik nyamuk.  Ikan nila merah juga mempunyai nilai ekonomi tinggi, karena enak rasanya dan sedikit sekali durinya.  Ikan nila merah juga merupakan bahan ekspor ke Amerika Serikat karena dapat dibuat fillet.

Dalam berkebun bakau tersebut, pekerjaan dasar nelayan mencari ikan ke laut tidak terganggu.  Empat-lima tahun kemudian, setiap dua hektar (20.000 bibit) minimal menghasilkan 5.000 batang kayu bakau.  Belum lagi setelah enam bulan-satu tahun, hasil empang  bisa mencapai 50 kg sampai 100 kg per periode panen.  Sungguh suatu hasil yang menjanjikan!

Selain dapat menghasilkan uang, maka dengan berkebun bakau akan memutus mata rantai kehidupan nyamuk Anopheles sebagai vektor (agen pembawa) malaria.  Kondisi lingkungan suatu hutan bakau yang memberikan naungan keteduhan pada air tergenang di dalam hutan tersebut, tidak memberikan peluang optimal bagi terjadinya perindukan nyamuk penyebab malaria.

Alangkah bahagianya bila kita melihat wajah-wajah nelayan tradisional di sekitar kebun bakau tampak cerah karena hidupnya sejahtera.  Kesejahteraan sosial seseorang atau sekelompok manusia dipengaruhi oleh beberapa komponen dasar yaitu: nutrisi, papan, kesehatan, pendidikan, rekreasi, keamanan, stabilitas sosial, lingkungan fisik dan pendapatan lebih.  Kebahagiaan memang harus diraih dengan usaha.  Usaha akan lebih mudah apabila dilakukan secara bersama-sama.  Manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.  Hidup nelayan Indonesia!!!

7 Komentar (+add yours?)

  1. Ridho Rahmadi (@Mahdilagi)
    Des 10, 2011 @ 19:57:20

    program yang cukup menjanjikan, tetapi akan percuma jika dari pihak nelayan tetap kekeuh menggunakan cara lama dan pihak pemerintah yang hanya memberi janji2 tanpa membantu sedikitpun….. diperlukan koordinasi antara nelayan dan pemerintah agar program yang telah ibu sarankan bisa berjalan.. Jika tidak ada koordinasi antara pemerintah dan nelayan, program yang telah ibu sarankan tidak ubahnya sebagai omong kosong belaka…

    Balas

  2. Taman Alex (@TamanAlex)
    Des 10, 2011 @ 20:28:07

    nelayan kita lebih suka membabat mangrove daripada menanam, begitu juga pengusahanya jarang yang mau inves untuk rehab hutan mangrove, jadi gitu deh, nelayan kita tetap aja miskin, harapannya kementrian kehutanan dan kementrian kelautan dan perikanan kerjasama dan koordinasi, untuk merehab hutan mangrove yang rusak agar kembali hijau.

    Balas

  3. marsani
    Des 13, 2011 @ 16:38:55

    Sipp Bu… tulisannya sangat bagus..
    selamat nge Blog ya…

    salam

    Balas

    • bwinarni
      Des 13, 2011 @ 19:06:05

      Terimakasih pak… Ternyata nge-Blog itu seperti candu ya… Sekali mengeluarkan isi pikiran dan bisa bermanfaat bagi orang lain, kok kepingin nulis terus…🙂

      Balas

  4. toni krishardian(BTP smester3)
    Des 13, 2011 @ 22:51:27

    Ternyata blog ibu sangat bagus .
    saya suka baca blog ibu,kalau bisa ibu buat blog cara mensejahterakan mahasiswa di kampus,hehehe

    Balas

    • bwinarni
      Des 14, 2011 @ 14:19:37

      Sudah saya lakukan dik…, dengan membaca blog ini berarti salah satu komponen dasar kesejahteraan sosial yaitu pendidikan telah anda peroleh. Semoga blog ini bisa memberi andil kebahagiaan anda….🙂

      Balas

  5. sari
    Jan 27, 2012 @ 00:10:12

    bagus mam…pertahankan…#gubrak banget komenku#..haha

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: